100+ Ayat Alkitab Tentang Pernikahan dan Jodoh


Ayat Alkitab Tentang Pernikahan, Cinta dan Jodoh

AYAT ALKITAB TENTANG PERNIKAHAN
Pernikahan yang Suci
Bacaan: Pengkhotbah 4:9-12
“Sebab itu seorang laki-laki bisa meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, agar keduanya menjadi satu daging.”
Kejadian 2:24
Dapat menikah dan membentuk sebuah keluarga yang senang pasti merupakan permohonan banyak orang. Karena pernikahan itu merupakan sebuah janji suci yang diutarakan oleh dua pakai insan yang saling mengasihi satu serupa lain, banyak orang yang berlomba-lomba membawa dampak pernikahan indah layaknya di negeri dongeng dengan alasan “sekali seumur hidup”. Benarkah demikian? Seseorang menikah pasti dilandasi dengan yang namanya cinta. Namun, sering kali pernikahan cuma dijadikan sebuah ajang permainan semata.
Kita bisa melihatnya di lebih kurang kami ataupun dipemberitaan area sosial. Banyak orang yang mengakhiri pernikahannya begitu saja gara-gara tidak bisa menyelesaikan kasus ya ada. Bahkan tersedia pula yang baru sebagian bulan menikah justru pilih untuk bercerai dan menikah lagi dengan orang yang dirasa udah tepat.
Apakah itu merupakan pernikahan yang berkenan di hadapanNya?
Ketika seorang laki-laki pergi meninggalkan orang tuanya dan pilih hidup dengan dengan orang yang dicintainya sampai maut mengatasi bukankah mestinya orang selanjutnya menjaga pertalian pernikahan itu sampai akhir hayatnya?
Padahal dalam Matius 19:5-6 paham tertulis demikian “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki bisa meninggalkan papa dah ibunya dan bersatu dengan isterinya, agar keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang udah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Sebagai orang percaya, pernikahan merupakan momen indah yang terlalu spesial gara-gara bisa tersedia keterlibatan Tuhan dalam keluarga yang bisa dibangunnya kelak. Perinikahan itu suci. Yang kudu diingat di sini adalah suci yang dimaksud bukanlah pasangan yang bisa menikah bukan pula pendeta yang memberkati pernikahan itu, tetapi Tuhan yang terlibat dalam pernikahan tersebut. Karena pernikahan itu suci, maka kami kudu menjaga pernikahan itu sampai maut memisahkan, Ketika suatu pasangan suami istri kelak diperhadapkan oleh suatu masalah, janganlah sampai menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak dulu salah. Ia selamanya paham apa yang kami butuhkan.
Yang membawa dampak itu salah adalah manusia itu sendiri. Pernikahan juga merupakan persahabatan yang paling akrab yang dimiliki oleh manusia. Dalam pertalian suami istri haruslah tersedia kasih Tuhan yang mendasari agar keduanya bisa saling mengasihi, mencintai, menghargai dan menghargai satu serupa lain. Haruslah menjadikan Tuhan sebagai “kepala keluarga” dalam pernikahan selanjutnya gara-gara Allah yang menjadi fokus di dalamnya. Setiap ketetapan yang diambil haruslah seturut dengan kehendakNya. Selain itu, pasangan suami istri juga kudu memiliki pandangan yang benar mengenai prinsip dan ikrar pernikahan mereka.
Pernikahan bukanlah merupakan suatu pertalian yang berwujud sementara. Masih banyak di pada kami yang menganggap bahwa pernikahan merupakan suatu langkah untuk memenuhi kebutuhan, agar tidak hidup sendiri dan agar tidak kesepian. Seringkali di pada kami lupa bisa maksud pernikahan yang suci dan kudus itu. Ketika pernikahan tidak didasari atas cinta kasih Tuhan, maka pernikahan selanjutnya bisa ringan diputuskan dan di lepaskan dikala tersedia kasus yang dihadapi atau dikala dua kesimpulan tidak bisa menjadi satu. Memang masing-masing orang memiliki pandangan yang tidak serupa mengenai pernikahan.
Ada yang  memiliki pandangan bahwa menikah merupakan salah satu langkah agar bisa hidup dengan seseorang yang dicintai tetapi tersedia pula yang berpandangan bahwa pernikahan merupakan suatu mengenai yang suci agar kudu bisa membawa pasangannya untuk sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan. Oleh gara-gara itu, masing-masing pasangan kudu paham khususnya dahulu mengapa mereka idamkan menikah dan membangun keluarga bersama.
Yang Harus Dilakukan Agar Ada Kasih dalam Pernikahan
Karena pernikahan merupakan suatu tahapan menuju kehidupan yang baru, maka hal-hal yang kudu diperhatikan dalam membangun pertalian pernikahan itu yaitu:
1. Menjadikan Tuhan sebagai pondasi pernikahan
Pernikahan merupakan sesuatu yang suci agar kudu menjadikan Tuhan sebagai pondasi utama dalam pernikahan tersebut. Ketika Tuhan udah menjadi pondasi, biarkan Tuhan yang menuntun pernikahan tersebut. Biarkan Tuhan juga ikut campur tangan di dalam pernikahan saudara. Ketika Tuhan udah bekerja dan ikut campur tangan dalam pernikahan tersebut, maka Tuhan bisa menjaga dan kasihNya bisa berkesinambungan tersedia dalam keluarga tersebut.
2. Saling mengasihi
Hal yang kudu diperhatikan yakni kasih. Ketikan suatu pasangan saling mengasihi, mereka bisa bisa menghadapi kasus secara bersama-sama dan juga berpikir bersama. Mereka tidak bisa saling menyalahkan dan mengupayakan untuk mengumpulkan dua kesimpulan yang tidak serupa dikala tersedia suatu kasus yang muncul.
3. Saling terbuka
Keterbukaan merupakan mengenai kudu yang kudu dilakukan. Setiap pasangan kudu berkenan terbuka satu serupa lain. Terbuka di sini bermakna masing-masing pasangan kudu jujur bisa perasaannya asing-masing. Ketika dalam pernikahan udah tersedia sikap saling terbuka, pernikahan itu bisa dipenuhi oleh kasih dan tidak tersedia kebohongan di dalamnya.
4 Tidak selingkuh
Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab suatu pertalian pernikahan tidak harmonis. Perselingkuhan cuma bisa membawa dampak kasih Tuhan hilang. Ketika perselingkuhan itu terjadi, cuma bisa membawa dampak pasangan menjadi kecewa dan tidak yakin lagi kepada kita. Bukankah perzinahan dilarang Allah untuk kami lakukan? Kasihilah pasanganmu sebagaimana mestinya. Apapun alasan yang mebuatmu menduakan pasanganmu ingatlah mengapa dahulu kamu memilihnya untuk mendampingi hidupmu.
5 Tidak khawatir
Ketika menikah, mengenai pertama yang pasti bisa terlihat yakni rasa khawatir. Khawatir bisa apa yang bisa dimakan dan diminum, kuatir bisa pekerjaan atau jikalau udah memiliki anak bisa kuatir pada anak tersebut. Rasa kuatir yang terlalu berlebih justru bisa membawa dampak pertalian pernikahan tidak menjadi harmonis. Pasangan bisa saling menuntut satu serupa lain untuk memenuhi keperluan yang jadi lama banyak. Karena tuntutan itu, kala dengan menjadi menyusut gara-gara berkesinambungan bekerja. Oleh gara-gara itu, serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan, maka Ia bisa mencukupkan seluruh yang kamu perlukan.
6. Saling menghormati
Saling menghargai juga terlalu kudu untuk dilakukan. Dalam Kolose 3:18-21 disebutkan demikian “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana mestinya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar pada dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, gara-gara itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, agar jangan tawar hatinya.” Menhormati merupakan salah satu wujud penghargaan yang paling dalam. Setiap bagian keluarga haruslah saling tersedia rasa hormat antar satu dengan yang lainnya.
7 Saling mengampuni
Ketika pasangan berbuat suatu kesalahan, kudu bagi kami untuk mengampuninya. Ketika pasangan tidak bisa saling mengampuni lalu bagaimana mereka bisa menjaga pernikahannya. Jangan biarkan amarah menguasai pernikahan suci yang udah dibangun tetapi biarlah kasih pengampunan nyata di dalamnya.
Pernikahan merupakan mengenai yang suci dimana Allah tersedia di tengah-tengah pernikahan tersebut. Jangan biarkan keegoisan diri justru membawa dampak kerusakan pernikahan suci yang udah dibangun. Setiap pasangan hendaklah saling mengasihi, menghargai dan mengampuni. Jadikanlah Allah sebagai pondasi dalam membangun suatu pertalian pernikahan. Kiranya kasih Allah menyertai pernikahan saudara. Tuhan Yesus memberkati.
AYAT ALKITAB TENTANG JODOH
Are You My Destiny?
Bacaan: Kejadian 2:18-25
“Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang berasal berasal dari tulangku dan daging berasal berasal dari dagingku. Ia bisa dinamai perempuan, gara-gara ia diambil berasal berasal dari laki-laki.””
Kejadian 2:23
Masalah percintaan pasti berkesinambungan menjadi topik obrolan hangat khususnya dikalangan anak muda. Banyak di pada anak muda yang berkesinambungan bicara mengenai jodoh yang kelak bisa menjadi pasangan hidupnya kelak. Terkadang rasa kuatir terlihat dikala seseorang udah memasuki fase “matang” baik secara emosional maupun seksual tetapi belum memperoleh jodohnya. Pertanyaan khususnya sindiran orang lain kadang kala salah diambil kesimpulan oleh kami agar kami mengupayakan untuk secepatnya memperoleh jodoh. Bahkan tidak heran jikalau kami menyaksikan banyak di pada kami yang memiliki pasangan yang belum yakin gara-gara konsep jodoh yang salah ini dan impuls yang salah untuk memperoleh jodoh secepatnya.
Padahal di dalam 2 Korintus 6:14 udah paham dikatakan demikian “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak sepadan dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terkandung pada kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang bisa bersatu dengan gelap?”
Ketika memiliki pasangan yang tidak seiman seringkali kami dengan yakin dan yakin bahwa kami bisa membawa pasangan kami yakin kepada Tuhan gara-gara menganggap pasangan itu merupakan jodoh yang udah Tuhan berikan. Namun apakah benar layaknya itu? Bisa saja kami yang justru dibawa oleh pasangan kami agar membawa dampak kami menjadi jauh dariNya.
Kekhawatiran bisa kasus jodoh seakan berkesinambungan menghantui dan membayangi kami yang belum dipertemukan Tuhan dengan pasangan yang tepat. Di dalam 1 Korintus 11:11-12 paham dikatakan “Namun demikian, dalam Tuhan tidak tersedia perempuan tanpa laki-laki dan tidak tersedia laki-laki tanpa perempuan.Sebab serupa layaknya perempuan berasal berasal berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal berasal berasal dari Allah.”
Setiap manusia pasti memiliki pasangannya masing-masing gara-gara tidak baik bagi manusia hidup seorang diri saja. Oleh gara-gara itu, kami tidak kudu kuatir bisa jodoh yang belum Tuhan pertemukan. Belum dipertemukan sekarang bukan bermakna kami tidak memiliki jodoh. Jodoh merupakan momen dimana kami memaksakan niat kami kepada Tuhan. Jodoh bukan bermakna kami menghendaki Tuhan untuk mengumpulkan kami dengan orang yang kami sukai.
Ini bukan kasus si A kudu menikah dengan si B. Ini merupakan kasus kala Tuhan memperoleh kami dengan seseorang yang bisa menjadi penolong hidup kami yang sepadan dengan kita.  Sepadan yang dimaksud bukanlah kesamaan status sosial atau kesamaan latar belakang. Sepadan di sini bermakna pasangan yang yakin kepada Tuhan yang bisa membangun kehidupan kami baik secara rohani dan jasmani. Jodoh bukanlah sesuatu yang kudu dipermainkan dan dipertaruhkan. Jodoh merupakan seseorang yang kelak bisa mendampingi kami baik senang maupun duka. Baik dalam kondisi sedih maupun senang. Ia bisa menopang dan menemani kami di selama kehidupan kita. Jadi, kami tidak kudu tergesa-gesa gara-gara Tuhan udah buat persiapan seseorang yang sepadan dengan kami yang kelak bisa menjadi penolong kita.
Ada dua pandangan tidak serupa mengenai jodoh. Pandangan pertama bicara bahwa jodoh merupakan takdir dan pandangan ke dua bicara bahwa jodoh merupakan pilihan. Pandangan jodoh merupakan sebuah takdir disebut juga dengan determinisme. Pandangan ini yakin bahwa jodoh seseorang itu udah ditentukan oleh Tuhan agar tidak kudu mengupayakan atau melakukan suau usaha untuk memperoleh jodoh.
Pandangan ini memungkinkan seseorang hanyak menganggap dirinya merupakan “tokoh” yang udah diatur oleh seorang “sutradara” agar bisa menerima masing-masing wejangan dan ketetapan yang diberikan. Ketika seseorang menganggap jodoh merupakan takdir Tuhan bisa menjadi ia juga menyalah artikan perasaan sukanya agar apa yang ia sukai dikatakan takdir dan merupakah jodohnya. Berbeda dengan pandangan yang kedua. Pandangan ke dua menganggap jodoh itu merupakan pilihan agar kami yang kudu pilih jodoh kita. Pandangan ini bisa mengutamakan niat bebas manusia untuk pilih apa yang ia sukai tanpa melibatkan campur tangan Tuhan. Ia menganggap inilah hidupnya agar ia yang kudu menentukan, bukan ditentukan oleh orang lain khususnya Tuhan. Pandangan mengenai jodoh ini kami yang pilih idamkan berpandangan layaknya apa. Yang kudu diingat, Tuhanlah yang udah mengatur masing-masing langkah hidup kita. Jangan lupakan Tuhan atas masing-masing apa yang kami putuskan dalam kehidupan ini.
Ketika kami mengabaikan Tuhan, pilihan yang kami anggap baik belum pasti benar dihadapanNya.
Bukankah mengenai paling utama adalah berbuat baik dan benar dihadapanNya?
Jangan biarkan keduniawian kami mengalahkan iman kami kepadaNya. Ia pasti bisa menyediakan dan memberi tambahan yang paling baik bagi kami juga soal pasangan hidup.
Hal paling utama dalam memperoleh jodoh yakni jangan meyakinkan persyaratan “paten” mengenai jodoh kita. Jangan memiliki kesimpulan salah mengenai jodoh. Masih banyak di pada kami yang berpikir bahwa dikala kami memiliki kesamaan dan keselarasan dengan seseorang bermakna orang selanjutnya merupakan jodoh kita.
Jika kalian memiliki kesamaan dalam mengenai yang buruk apakah kamu beranggapan dia masih selamanya jodohmu yang diberikan oleh Tuhan?
Jodoh itu haruslah seseorang yag udah Tuhan tetapkan bukan yang kami tetapkan menurut persyaratan dan permohonan kita.
Tanda Dia Merupakan Pasangan berasal berasal dari Tuhan
Terkadang kami bingung apakah benar orang yang sedang dengan kami kala ini atau kelak bisa dengan kami merupakan jodoh perlindungan berasal berasal dari Tuhan atau bukan. Untuk menjawab kebingungan tersebut, selanjutnya bisa dijelaskan isyarat dia merupakan pasangan berasal berasal dari Tuhan.
1. Memiliki Iman yang sejati kepada Tuhan Yesus
Iman yakin kepada Tuhan merupakan mengenai kudu yang kudu dimiliki oleh seseorang yang bisa menjadi pasangan kita. Jika ia tidak mempercayai Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, maka ia bukanlah jodoh berasal berasal dari Tuhan. Mengapa demikian? Karena Tuha sendiri menyuruh kami untuk melacak pasangan yang sepadan.
2. Tuhan yang mendominasi pertemuan kami dengannya
Ketika kami mengupayakan melacak seseorang yang dianggap sebagai jodoh kami agar kami memaksa Tuhan tetapi tidak menghendaki penyertaan Tuhan bisa menjadi dia bukan merupakan jodoh kami gara-gara kami yang mengupayakan sekuat tenaga untuk dengan dengannya tetapi tidak menghendaki penyertaan Tuhan. Jika kami menjadi dia cocok dengan kita, belum pasti Tuhan juga menghendakinya. Tuhan tidak selamanya mengijinkan suatu pertemuan yang berjalan untuk kelak dipersatukan kemudian.
3. Benar-benar mencintai kami apa adanya
Tanda dia merupakan pasangan berasal berasal dari Tuhan untuk kami yakni sikapnya yang terlalu mencintai kami apa adanya. Ia berkenan menerima kekurangan dan kelemahan kami khususnya menjadi pelengkap bagi kekurangan kita. Ia tidak menuntut kami untuk berubah dan menuruti apa yang dia inginkan. Dia selamanya idamkan kami menjadi diri kami sendir apa adanya tanpa kudu membandingkannya dengan orang lain. Ia bisa membawa dampak kami menjadi seseorang yang istimewa gara-gara dia mencintai apa yang tersedia pada diri kami tanpa menuntut adanya suatu perubahan.
Jodoh merupakan sesuatu yang tidak bisa kami paksakan kepada Tuhan. Kita juga tidak bisa meyakinkan seseorang untuk menjadi jodoh kami berdasarkan persyaratan pilihan kita. Jika kami menjadi cocok atau nyaman dengan seseorang, belum pasti orang selanjutnya merupakan jodoh perlindungan berasal berasal dari Tuhan. Oleh gara-gara itu, jikalau pada kala ini kamu belum memperoleh jodoh berasal berasal dari Tuhan, ingatlah Ia bisa memberi tambahan seorang penolong yang sepadan denganmu kelak. Jangan tergesa-gesa untuk melacak dan menemukannya. Libatkanlah dan tanyakanlah Tuhan selamanya agar apa yang kamu pilih sebetulnya benar berasal berasal berasal dari Allah. Tuhan Yesus memberkati.

Posting Komentar

0 Komentar